Bertempat di Gedung Gereja Bethesda Jemaat Poka, berlangsung kegiatan Sosialisasi Resiko Rawan Bencana dan Penanggulannya, serta Adaptasi Perubahan Iklim. Kegiatan ini merupakan salah satu program pada Bidang Pengembangan Oikumene Semesta yang telah diputuskan dalam sidang ke 14 Klasis Pulau Ambon Utara tahun 2026. Klasis Pulau Ambon Utara memandang kegiatan ini sebagai media edukasi bagi pelayan dan warga gereja. Sebab perubahan iklim global saat ini bukan lagi sekadar ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang terjadi dan memicu peningkatan frekuensi serta intensitas bencana hidrometeorologi di berbagai belahan dunia. Fenomena seperti kenaikan suhu bumi dan pergeseran pola cuaca ekstrem telah mengakibatkan bencana seperti banjir bandang, kekeringan berkepanjangan, tanah longsor, dan angin puting beliung terjadi secara lebih tidak terprediksi. Kondisi ini tidak hanya mengancam keselamatan jiwa manusia, tetapi juga menimbulkan kerusakan masif pada infrastruktur publik, menurunkan produktivitas sektor pertanian, serta mengganggu stabilitas ekonomi dan sosial masyarakat.

Pada tingkat lokal, dampak akumulatif dari perubahan iklim dan risiko bencana ini dirasakan paling berat oleh komunitas di tingkat pedesaan. Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai keterkaitan antara perubahan iklim dengan pola bencana baru sering kali membuat langkah kesiapsiagaan menjadi tidak optimal. Pola penanganan yang selama ini diterapkan cenderung masih bersifat responsif saat bencana terjadi, ketimbang berfokus pada upaya pengurangan risiko secara mandiri dan berkelanjutan. Tanpa adanya pemahaman yang komprehensif mengenai kerentanan wilayahnya, masyarakat akan terus berada dalam siklus kerugian yang berulang setiap kali terjadi perubahan cuaca ekstrem.

Oleh karena itu, diperlukan sebuah langkah strategis yang integratif untuk menjembatani kesenjangan informasi tersebut melalui kegiatan Sosialisasi Risiko Bencana, Penanggulangan, dan Adaptasi Perubahan Iklim. Melalui pendekatan Konvergensi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Adaptasi Perubahan Iklim (API) ini, diharapkan masyarakat mampu mengenali potensi ancaman di sekitarnya, menguasai keterampilan penanggulangan dasar, dan merumuskan aksi nyata yang adaptif demi mewujudkan komunitas yang tangguh dan resilien terhadap perubahan lingkungan jangka panjang.

Dalam arahan pembukaan kegiatan, Ketua Klasis GPM Pulau Ambon Utara, Pendeta, Ny. R. M. Haliwela menegaskan bahwa tantangan yang kita alami tidak mudah, secara khusus menghadapi resiko bencana yang tanpa kita tahu kapan hal itu akan terjadi. Karena itu,  Gereja Protestan Maluku terlebih Khusus Klasis Pulau Ambon Utara dengan wilayah yang begitu besar dan jemaat-jemaat yang banyak mendiami pesisir pantai di Teluk Ambon harus siap merespons bencana alam : banjir, gempa bumi, maupun tsunami. Karena itu, kami merasa kegiatan ini penting untuk dilakukan, agar dapat meningkatkan pengetahuan warga gereja mengenai keterkaitan antara perubahan iklim global dengan peningkatan resiko bencana dan membangun kapasitas kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana serta mendorong perumusan aksi adaptasi lingkungan yang berkelanjutan.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan masing-masing jemaat, sebanyak 3 orang, yakni Ketua Majelis Jemaat, Ketua Sub Seksi Bencana Alam dan Sosial, Ketua Badan Penanggulangan Bencana Jemaat kegiatan ini difasilitasi oleh orang 2 narasumber, yakni saudari Fretha Kayadoe dari unsur BPBD Maluku dan Bapak Hery Latuheru dari PMI Provinsi Maluku. Sesi teori ditutup dengan praktek penanggulangan bencana oleh fasilitator. Di harapkan setelah kegiatan dimaksud, peserta dapat mensosialisasikannya ke jemaat-jemaat agar menjadi pengetahuan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *